Parenting15 September 20264 menit baca

Seni Dialog Ayah-Anak: Mengembalikan Peran Ayah dalam Nalar Adab

Dr. Hendra Gunawan, M.Psi.

Kontributor Wawasan Fitrah

Seni Dialog Ayah-Anak: Mengembalikan Peran Ayah dalam Nalar Adab

Kajian psikologi modern maupun kisah-kisah keteladanan para nabi menegaskan hal yang sama: sosok ayah memegang peranan krusial dalam pembentukan logika adab, ketahanan emosi (adversity quotient), dan identitas seksual anak.

Sayangnya, mitos usang bahwa *"urusan mengasuh adalah domain mutlak ibu, sementara ayah hanya pencari nafkah materi"* telah melahirkan epidemi *fatherless society* (ketiadaan figur ayah secara psikologis meskipun hadir secara fisik di rumah).

Apa yang Hilang Ketika Ayah Absen? 1. Kehilangan standar batas ketegasan dan kepatuhan pada prinsip etika. 2. Kebingungan mencari model keteladanan saat anak memasuki usia remaja. 3. Kerentanan anak terhadap perundungan (bullying) dan ketergantungan pada validasi semu di media sosial.

Tiga Kebiasaan Sederhana Bagi Para Ayah Sibuk - **The 15-Minute Bedtime Talk**: Duduk di tepi ranjang anak, letakkan gawai di ruangan lain, dan tanyakan: *"Apa hal paling menyenangkan atau paling berat yang kamu hadapi hari ini?"* - **Kencan Berdua (Father-Child Date)**: Luangkan sebulan sekali waktu privat untuk mengajak anak laki-laki atau perempuan Anda berpetualang ke alam bebas atau sekadar makan bersama tanpa anggota keluarga lain. - **Doa Terang di Hadapan Anak**: Biarkan anak mendengar langsung bagaimana ayahnya melangitkan doa dengan suara lirih memohon keselamatan dan keluhuran budi pekerti untuk dirinya.

Dipublikasikan oleh Ekosistem Pendidikan Lestari

Artikel Edukasi Terkait

Lihat Semua Artikel →